Tugas Terstruktur 05
ANALISIS SIKLUS HIDUP PRODUK
Produk: Sabun Mandi Batang
1. Diagram Siklus Hidup Produk
Diagram Alur Siklus Hidup
Ekstraksi Bahan Baku
→ Produksi
→ Distribusi
→ Konsumsi
→ Pengelolaan Limbah
Penjelasan Tiap Tahap
(a) Ekstraksi bahan baku
* Minyak kelapa / minyak sawit
* Bahan kimia (NaOH, pewangi, pewarna)
* Air
(b) Produksi
* Pencampuran bahan
* Proses saponifikasi
* Pencetakan sabun
* Pengemasan
(c) Distribusi
* Transportasi dari pabrik ke distributor
* Distribusi ke toko dan konsumen
(d) Konsumsi
* Penggunaan sabun untuk mandi
* Pemakaian air selama penggunaan
(e) Pengelolaan limbah
* Kemasan dibuang
* Sisa sabun masuk ke saluran air
Batas Sistem
Analisis mencakup:
* Transportasi bahan baku dan produk
* Penggunaan energi dalam produksi
* Penggunaan air saat konsumsi
* Pengelolaan limbah kemasan
* Tidak mencakup pembangunan pabrik dan alat produksi
Asumsi
* Sabun berbahan dasar minyak sawit
* Masa pakai: ±1 bulan per batang
* Kemasan plastik/kertas
* Limbah kemasan dibuang ke tempat sampah umum
* Tidak semua kemasan didaur ulang
2. Narasi Analisis (±500 kata)
Saya memilih sabun mandi batang sebagai objek analisis karena produk ini digunakan hampir setiap hari oleh semua orang dan memiliki keterkaitan langsung dengan isu keberlanjutan, terutama dalam penggunaan bahan kimia, air, serta kemasan. Meskipun terlihat sederhana, sabun memiliki siklus hidup yang cukup panjang dan melibatkan berbagai proses industri yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.
Batas sistem dalam analisis ini mencakup proses dari ekstraksi bahan baku hingga pengelolaan limbah kemasan setelah produk digunakan. Analisis juga mencakup transportasi, konsumsi energi selama produksi, serta penggunaan air saat konsumsi. Namun, pembangunan fasilitas produksi dan mesin tidak dimasukkan dalam batas sistem.
Pada tahap ekstraksi bahan baku, minyak sawit atau minyak kelapa sebagai bahan utama sabun memiliki dampak lingkungan yang signifikan. Perkebunan sawit sering dikaitkan dengan deforestasi, kehilangan habitat satwa, serta emisi karbon akibat pembukaan lahan. Selain itu, penggunaan bahan kimia seperti natrium hidroksida juga memerlukan proses industri yang mengonsumsi energi tinggi.
Tahap produksi membutuhkan energi listrik dan panas untuk proses pencampuran, pemanasan, pencetakan, dan pengeringan sabun. Proses ini menghasilkan emisi karbon dan limbah cair industri yang harus diolah agar tidak mencemari lingkungan. Jika pengolahan limbah tidak optimal, maka dapat mencemari air dan tanah.
Pada tahap distribusi, produk diangkut menggunakan kendaraan bermotor yang menghasilkan emisi gas rumah kaca. Semakin jauh jarak distribusi, semakin besar pula dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Tahap konsumsi melibatkan penggunaan air dalam jumlah cukup besar saat mandi. Air sabun yang mengandung bahan kimia kemudian masuk ke saluran pembuangan dan berpotensi mencemari perairan jika tidak diolah dengan baik.
Tahap akhir adalah pengelolaan limbah. Kemasan sabun sering kali berbahan plastik atau kertas berlapis yang sulit didaur ulang. Jika dibuang sembarangan, kemasan ini dapat menjadi sumber pencemaran lingkungan.
Untuk mengurangi dampak lingkungan, sabun dapat didesain ulang dengan menggunakan bahan alami, minyak nabati berkelanjutan, serta kemasan biodegradable atau tanpa kemasan. Selain itu, sabun cair isi ulang atau sabun batang tanpa plastik dapat menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Sebagai konsumen, kita dapat memilih produk dengan label ramah lingkungan, menggunakan sabun secukupnya, menghemat air saat mandi, serta memilah sampah kemasan. Dengan perubahan kecil tersebut, dampak lingkungan dari siklus hidup sabun dapat dikurangi secara signifikan.
Komentar
Posting Komentar