Tugas Mandiri 12

LAPORAN OBSERVASI

Perilaku Konsumsi Tidak Berkelanjutan

Tahap 1: Persiapan dan Lokasi Observasi

Observasi dilakukan di kantin kampus selama 60 menit pada jam makan siang, yaitu pukul 11.30–12.30. Pada waktu tersebut, aktivitas pembelian makanan dan minuman sangat tinggi sehingga perilaku konsumsi dapat diamati dengan jelas. Alat yang digunakan dalam observasi berupa buku catatan dan ponsel untuk dokumentasi pribadi.


Tahap 2: Hasil Pengamatan

Berdasarkan hasil observasi, ditemukan lima contoh praktik konsumsi yang dikategorikan sebagai tidak berkelanjutan.

Pertama, penggunaan sendok dan garpu plastik sekali pakai sangat dominan. Hampir semua pembeli menggunakan alat makan plastik yang langsung dibuang setelah selesai makan.

Kedua, pembelian minuman dalam botol plastik sekali pakai juga sangat tinggi. Konsumen jarang membawa botol minum sendiri.

Ketiga, banyak makanan dibungkus menggunakan styrofoam yang diketahui sulit terurai dan berbahaya bagi lingkungan.

Keempat, penggunaan sedotan plastik masih menjadi kebiasaan meskipun tidak selalu diperlukan.

Kelima, terdapat cukup banyak sisa makanan yang dibuang ke tempat sampah, menunjukkan adanya pemborosan makanan.

Kelima praktik tersebut menunjukkan bahwa aspek kenyamanan masih menjadi prioritas utama dibandingkan pertimbangan lingkungan.


Tahap 3: Analisis Penyebab

Tiga perilaku yang paling sering terjadi adalah penggunaan alat makan plastik, kemasan styrofoam, dan botol plastik sekali pakai.

Penggunaan alat makan plastik terjadi karena praktis, tidak perlu dicuci, dan selalu tersedia di setiap gerai. Kemasan styrofoam dipilih oleh penjual karena murah, ringan, dan tahan panas. Sementara itu, botol plastik sekali pakai dipilih oleh konsumen karena mudah dibeli dan dibawa.

Ketiga perilaku ini terjadi karena kombinasi antara faktor kebiasaan, minimnya fasilitas alternatif ramah lingkungan, serta kurangnya kesadaran akan dampak lingkungan jangka panjang.


Tahap 4: Saran Solusi

Untuk mengurangi praktik konsumsi tidak berkelanjutan tersebut, terdapat beberapa solusi yang dapat diterapkan.

Pertama, pengelola kantin dapat menyediakan alat makan yang dapat digunakan ulang untuk pembeli makan di tempat.

Kedua, konsumen dapat didorong membawa botol minum dan wadah makanan sendiri melalui pemberian diskon atau insentif.

Ketiga, penggunaan kemasan styrofoam dapat diganti dengan kemasan berbahan kertas atau bahan biodegradable.


Kesimpulan

Hasil observasi menunjukkan bahwa konsumsi tidak berkelanjutan masih menjadi kebiasaan umum di kantin kampus. Faktor kenyamanan, harga, dan kebiasaan menjadi penyebab utama. Namun, dengan penyediaan fasilitas yang lebih ramah lingkungan dan peningkatan kesadaran konsumen, pola konsumsi yang lebih berkelanjutan dapat mulai diterapkan secara efektif.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Artikel dan Mindmap 1 Muhammad Rayhan Ibrahimovich

Jurnal 1

Tugas Mandiri 04